Sabtu, 02 Maret 2013

Daun Kecilku




"Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil ini dapat menutupi dunia yang luas ini?” Tanya seorang kawan pada sahabatnya, “Jangankan dunia, menutupi telapak tangan saja ia sudah tak sanggup.” Sahabatnya menjawab dengan tenang, “Daun ini memang kecil, namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah dunia ini."

Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk, sekecil apapun itu pasti kita hanya akan melihat keburukan di mana-mana. Dunia ini pun akan tampak buruk.

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil,

Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran buruk yang secuil,

Karena kita selamat bukan karena sebanyak apa ibadah yang sudah dilakukan,

Tapi seberapa kecil maksiat yang sudah dihindarkan

Bila hati kita tertutup, maka tertutuplah semua ..

Buka hatimu, buka pikiranmu ..

Kamis, 28 Februari 2013

Mahasiswa : Agen Perubahan atau Penerus Kerusakan?


Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !
Sepenggalan kata yang masih selalu terngiang-ngiang ditelinga, kata yang selalu terdengar di sudut-sudut kampus atau pun saat aksi jalanan, kata-kata itu seperti jadi kalimat wajib mahasiswa yang harus selalu diucapkan untuk membela kepentingan rakyat.
Kalimat itu terdengar pertama kali saat menginjakan kaki di bumi perantauan jatinangor, memulai meniti kehidupan di kampus padjadjaran. Ya, itu adalah pada saat orientasi mahasiswa baru. Ketika orasi dari ketua BEM Kema saat itu yang mengebu-gebu seolah membakar semangat setiap orang yang mendengarnya, dan diakhir orasinya, dua penggal kalimat itu yang diucapkan
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !
Kalimat itu rasanya semakin menambah kebanggan menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa? Ya, ‘maha’ dan ‘siswa’, kata yang membedakan dengan saat SD, SMP dan SMA hanyalah adalah kata ‘maha’ didepan kata ‘siswa’. Kenapa demikian? Itu adalah pertanyaan yang muncul saat pertama kali memakai almamater biru dongker.
Sekarang mungkin sedikit tersadar, makna penambahan kata ‘maha’ didepan kata ‘siswa’ memang bukan sekadar kata ataupun imbuhan untuk memperhalus, tapi dibalik itu semua tersimpan sejuta tanggung jawab yang sangat besar. Tanggung jawab terhadap diri sendiri akan keberlangsungan masa depan yang masih tanda tanya, tanggung jawab terhadap orang tua yang materil dan moril. Apalagi untuk mahasiswa yang bersekolah di kampus negeri yang (katanya) dibiayai dari uang rakyat, sepertinya punya tanggung jawab lebih kepada masyarakat. Ah rasanya pundak yang kecil ini tidak sanggup untuk menanggung tangung jawab yang begitu besar.
Mahasiswa yang mempunyai idealism tinggi dan merasa bertanggung jawab terhadap rakyat menilai bahwa memperjuangkan kepentingan rakyat adalah suatu keharusan, teriknya matahari mereka lawan hanya untuk aksi agar tuntutannya didengarkan wakil rakyat. Ya, mahasiswa itu memang hebat. Lantas siapa yang bisa menurunkan kediktatoran rezim soeharto tahun ’98? Bukankah itu mahasiswa. Masih segar dalam ingatan, saat pemerintah berencana menaikan harga BBM tahun lalu karena kebocoran anggaran, lantas siapa yang berteriak dengan lantang menolak kenaikan harga BBM itu saat yang lain diam membisu? Mereka berjuang memperjuangkan hak-hak rakyat yang teraniaya oleh kejamnya sistem kapitalis. Ya, mahasiswa itu memang hebat, sungguh memang benar-benar hebat. Mereka datang bak pahlawan kebenaran pembasmi kejahatan untuk memperjuangkan rakyat yang tertindas karena pemeritah yang ‘sakit’.
Mahasiswa yang (katanya) merupakan agent perubahan memang merupakan kelompok yang sangat strategis. Ke atas dan ke bawah gerakan mahasiswa sangat kuat. Kuat ke atas karena mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang sangup berdialog dengan penguasa. Kuat ke bawah karena mahasiswa mampu menggerakan rekannya dan rakyat untuk menjadi sebuah kekuatan massa yang massif. Terbukti pada tahun ‘98 mahasiswa sebagai gerakan pendobrak utama naik dan jatuhnya penguasa. Untuk itu gerakan mahasiswa dalam setiap kesempatan selalu dibutuhkan oleh kekuasaan.
Orang-orang yang memupuk idealism nya sejak mahasiswa memang orang yang luar biasa, tapi pertanyaannya? Kemana idealism itu saat sudah duduk dibangku penguasa. Seolah dipreteli oleh keadaan dan waktu, idealism mereka untuk membela kepentingan rakyat hilang sudah, entah mereka sendiri yang menghilangkannya atau keadaan sendiri yang memaksanya, yang jelas kadang kebijakan yang dibuat menyusahkan orang banyak, antagonis sekali dengan idealism yang dibangun ketika masih menyandang gelar ‘mahasiswa’.

Sebuah Refleksi
Saat kita mengkritik habis-habisan kebijakan para penguasa, saat kita mencaci semua keputusan mereka, dan saat kita menilai mereka sudah tidak layak lagi berkuasa karena hanya kebijakan yang menyusahkan saja yang dibuat, mungkin kita lupa bahwa dulunya mereka juga pernah ada diposisi kita sebagai ksatria tanpa senjata, berani membusungkan dada untuk menghadang para penguasa tirani.
Lalu apa yang terjadi? Itu karena mereka sejak awal hanya belajar untuk mengkritik saja, aksi dijalanan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi, ketika kebijakan tidak pro-rakyat hanya menolak tanpa tahu kenapa kebijakan itu muncul dan ketika menolak tidak memberikan solusi nyata sebagai pengganti kebijakan, itu sebabnya ketika sudah duduk di bangku penguasa pun mereka hanya memenuhi kuorum rapat saja dan menambah deretan orang ‘sakit’ ditengah system yang sudah sekarat ini. Dan pada akhirnya mereka hanya jadi badut pengisi berita TV, memenuhi headline koran karena ulah mereka.
Jadi mulai lah dari sekarang untuk belajar membangun gagasan, karena secarik kertas yang mengandung gagasan lebih berharga daripada emas permata. Karena kedepannya pertarungan mahasiswa itu bukan lagi sekadar mengkritik melainkan karena pertarungan argumentasi dan gagasan untuk mengatasi permasalahan bangsa. Memang akan menghasilkan konflik terbuka, tapi konflik karena perbedaan argumentasi ini akan melahirkan konflik yang elegan sebagai solusi untuk menghadapi permasalahan bangsa.

Mari kembali rapatkan barisan,
Karena tulisan ini dipersembahkan untuk kalian yang mengerti persoalan J
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !

Minggu, 14 Oktober 2012

Sakit itu Penggugur Dosa



Mungkin karena terlalu banyak beraktifitas dan tidak ada henti-henti nya, jadi Allah 'menghentikannya' dengan cara yang lainMulai dari penugasan protokoler untuk hari minggu besok yang tiba-tiba 'cancel'. Entah apa yang terjadi, mungkin hari esok memang dipersiapkan untuk beristirahat sepenuhnya, karena hampir 2 bulan ini tidak pernah menemukan weekend, karena terlalu sibuk dengan kegiatan kampus dan urusan duniawi
Astagfirullah .. 

Atau mungkin ini salah satu peringatan atas kemaksiatan dalam hati, kelalaian dalam diri, yg sering dilakukan karena adanya intervensi meski bertentangan dengan hati nurani 


Kalau memang demikian, biarlah sakit yang dirasa sebagai penebus atas segala pengotor jiwa, perusak akal, pembelot nurani dan penoda iman dan taqwa


Tersenyumlah ..

Karena tersenyum itu bukan menandakan hidup kita sempurna tapi mensyukuri atas segala apa yang telah Allah berikan kepada kita walaupun kadang kesakitan yang didapat. Tapi yakinlah karena sesungguhnya setelah kesakitan itu pasti ada kemudahan 

Dan terakhir, Berbahagialah ..

Karena sesungguhnya bahagia itu bukan karena kesenangan yang didapat, tapi karena syukur yang di ucap. Karena sesungguhnya sakit itu merupakan penggugur dosa. 
"Robbi inni masyaniyad durru wa anta arhamur rohimin"

Jumat, 21 September 2012

Sabar dalam Perjuangan



Kadang kita lupa mensyukuri
Atas nikmat yang telah di beri
Oleh Sang Pemilik kekuatan hati

Ingatlah bahwa dalam diri ini
Terdapat hak Sang Ilahi
Yang perlu di renungkan dalam hati
Dan diwujudkan dalam bukti
Sebagai konsekwensi dari janji
Atas terucapnya kalimat tauhid sejati
Laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah


Saat raga tak lagi bernyawa
Karena lemahnya iman dan taqwa
Apa yang mau dikata
Karena yang didepan mata hanyalah neraka
Naudzubillah

Aku tahu
Dan kalian pun pasti tahu
Bagaimana kuat dan hebatnya orang-orang terdahulu
Bukan karena mereka pandai menebas kayu
Atau karena intelektualitas di dalam buku
Tapi karena ketaatan mereka pada Sang Ilahi

Bersabarlah . . 
Meski banyak yang menghina diri
Hingga emosi tak dapat terkendali

Bersabarlah . . 
Karena sebentar lagi apa yang di ucapkan Rasul akan terbukti
Atas sesuatu yang telah terjanji
Sebagai bukti ketaatan pribadi,
Masyarakat, maupun Negara dalam koridor yang Islami

Dan terakhir, do'a ku di pagi ini
"Tuhan, biarkanlah kami yang menjemput indahnya cahaya pagi yang akan tiba, kami ingin membuat-Mu bangga telah menciptakan kami dan saksikanlah, karena setiap hembusan nafas ini akan menjadi saksi perjuangan yang telah kita lakukan untuk menegakan dinn-Mu."
Rabbana atina fiddunya hasanatan wafil akhirati hasanatan waqina 'azabannar




18th : Keluarga Kecilku

Hadiah Al-Qur'an Hafalan

Sahabatku, dalam satu landscape kehidupan kadang terjadi berbagai dinamika, entah harus mengikuti idealisme atau tunduk pada intervensi logika yang terpaut dalam susunan angka-angka seakan terjadi dualisme alur berfikir yang super tinggi diantara keduannya.


Sahabatku, meski not-not balok ini belum sempat kau selesaikan dan kau lebih memilih aransemen mu sendiri, yakinlah kita sedang dibimbing membuat satu sympony kehidupan yang indah dan merdu dengan aransemen yang berbeda tanpa merubah komposisi dasar yang dulu kita pernah susun bersama.


Sahabatku meski kau sempat terjatuh dalam surau, walau pelan suara mu parau dan aroma hatimu galau, ingatlah kita masih punya cerita yang belum kita selesaikan hingga bisa mengukir nama kita di bawah indahnya cahaya kemilau.


Teruntuk Keluarga Kecilku :))

Tahun ke-18 :))

Selasa, 10 Juli 2012

Dari Sekitarku Aku Belajar


Dari Cermin aku belajar, Cermin itu tidak pernah bohong. Dia hanya memantulkan apa yang ada di depannya. Kita bertanya, dia menjawab. Dia membantu melihat diri kita dari sisi lain yang tidak pernah bisa kita lihat.

Dari Air aku belajar, air selalu bisa menyesuaikan dengan tempat dimana pun dia berada, tanpa lupa bahwa dia itu air.

Dari Tukang Parkir aku belajar, dia tidak pernah sombong meskipun punya banyak mobil dan motor, karena dia tahu dan sadar bahwa semua itu hanya titipan dari orang lain. Sekarang, masih membanggakan apa yang kita punya saat ini? Sadarlah itu semua hanya titipan dari Allah swt. 

Dari ikan laut aku belajar, meskipun dia tinggal di lingkungan yang asin, tapi dagingnnya tetap tawar, tidak pernah terbawa oleh asin nya air laut.

Dari Pepohonan aku belajar, kadang dia harus merelakan daunnya berguguran untuk mengurangi penguapan berlebih, akibat suhu disekitarnya yang tinggi. Dalam hidup, kadang kita juga harus merelakan sesuatu yang kita anggap itu sangat berharga, tapi masih ingatkah kamu Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216 : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Dari sebuah Durian aku belajar, kadang penampakan luar itu tidak selalu mencerminkan kualitas di dalam nya.

Dari seorang Programmer aku belajar, jika sebuah program tidak dijalankan sebagaimana mestinya, berdasarkan instruksi yang telah di buat sang pencipta nya, bisa jadi program itu hancur atau minimal error. Ada korelasinya dengan Indonesia dan Umat Muslim saat ini? Silakan pikirkan sendiri :D

Dari Lapangan Bola aku belajar, seberapa keras pun penonton berkomentar, mereka mencaci, mereka memaki dan mereka mengina para pemain di tengah lapangan. Siapa yang kaya? Siapa yang Sukses? Dan Siapa yang dibayar? Tentu saja pemain. Masih tetap mau jadi penonton dalam pentas Dakwah ini, Sementara Allah sudah dengan tegas menjanjikan kemenangan untuk kita.

Dari Lilin aku belajar, semakin terang cahaya lilin, maka api akan  semakin cepat melahapnya habis. Karena gaya selalu berbanding lurus dengan resultannya.

Dari sebuah Kereta aku belajar, dia tidak pernah berhenti di statsiun untuk menunggu penumpang. Kereta akan tetap berangkat dengan atau tanpa ada nya penumpang. Karena bukan hasil yang dicapai tapi proses, bukan banyaknya kuantitas, tapi hebatnya kualitas.

Dari Farmasi aku belajar, dari Ahli Farmasi aku belajar tentang obat-obatan. Islam itu adalah Obat, satu-satunya obat bagi pesakitan yang sedang dialami Dunia saat ini. Mari Sembuhkan Dunia J


Dan dari Indonesia aku banyak sekali belajar, yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu dalam tulisan ini, Terima kasih Indonesia karena engkau telah sudi aku pijak sampai detik ini. Sekarang nantikan aku karena aku ingin sedikit berkarya untukmu, tapi biarkan aku berpetualang lagi sebelum benar-benar siap untuk membangun mu kelak, dengan Islam tentunya.

 
biz.