Terimakasih untuk
kalian yang sudah menemani perjalanan hingga detik ini. Aku senang bisa
bekerjasama dengan kalian membangun laboratorium kehidupan kita. Tapi terlalu
lama berlayar memang menjemukan juga. Terlalu lama di lautan kadang membuat
lupa daratan. Padahal sejatinya di daratan lah kehidupan ini akan di
langsungkan. Aku ingin mengejar mereka yang sudah sejak lama membangun
fondasi-fondasi kehidupan masa depan. Sekarang aku benar-benar ingin menepi,
setidaknya untuk saat ini.
Sabtu, 26 Oktober 2013
Aku ingin Menepi
Jumat, 18 Oktober 2013
9th kinerja SBY : Potret Buram Kesehatan Indonesia
Kesehatan
merupakan kebutuhan setiap orang. Selain lewat pendidikan, bangsa yang maju di
nilai dari taraf kesehatan warga Negara nya, karena dengan sehat setiap orang
bisa melakukan hal produktif apapun untuk memajukan bangsa dan Negara nya. Menyadari
pentingnya peran kesehatan dalam hajat hidup setiap manusia, pemerintah
seharusnya memberikan perhatian lebih dalam bidang kesehatan. Ketika sector
kesehatan tidak dapat dijalankan dengan baik ini akan membuat derajat sehat
setiap insan Indonesia semakin rendah. Akibatnya produktivitas akan menurun dan
roda perekonomian pun bisa lumpuh.
Ketidakseriusan
pemerintah dalam mengelola sector kesehatan bisa kita nilai dari total APBN
yang pemerintah keluarkan. Total APBN yang pemerintah keluarkan pada tahun 2013
hanya sekitar Rp55,9 T. Meskipun mengalami peningkatan dari tahun-tahun
sebelumnya jumlah ini dinilai terlalu kecil karena jumlah ini hanya sekitar 3%
dari total APBN 2013 yang hampir mencapai Rp1529,7 T (depkeu.go.id). hal ini
jelas mengingkari amanat dari UU no.36 tahun 2009 tentang kesehatan, karena
pada pasal 171 jelas disebutkan bahwa “Besar anggaran kesehatan Pemerintah
dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan
belanja negara di luar gaji.” Anggaran yang kecil itu pun jika berkaca pada
tahun 2011 hampir Rp39,5 T nya habis digunakan untuk biaya pengobatan dan
perawatan Penyakit Terkait Rokok (PTR) (sindonews.com).
Sebagai
Negara berkembang, Indonesia terus menggenjot neraca pembangunan salah satunya dalam sector kesehatan.
Sayangnya, pembangunan yang terjadi hanya untuk mengejar image. Pemerataan
bidang kesehatan bukan dimaknai secara luas, namun hanya diintepretasikan
secara parsial. Akibatnya pemerataan yang terjadi hanya sebatas pembangunan
sarana-sarana fisik. Ini terlihat dari banyaknya puskesmas yang berdiri, namun
tak terkelola dengan baik karena keterbatasan tenaga medis. Akhirnya,
masyarakat pun masih tak mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal. Menurut
Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) dari
sekitar 8.800 unit Puskesmas, 20% diantaranya tidak memiliki dokter. Adanya
kekosongan dokter maupun bidan, di sejumlah Puskesmas tersebut karena
keengganan mereka untuk ditempatkan sebagai pegawai tidak tetap (PTT) di daerah
yang jauh dari tempat asalnya. Hal ini bisa disebabkan multifactor, bisa jadi dokternya
yang tidak bersedia atau memang tidak ada peraturan yang memaksa hal ini. Jika
kita bandingkan waktu dulu terdapat adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5
Tahun 1975 yang mewajibkan semua tamatan dokter, bidan, dan perawat bersedia
ditempatkan dimana saja, dan jika tidak mau maka akan mendapatkan sanksi,
berbeda realita dengan sekarang ini. Sekarang aturan tersebut sudah tidak
berlaku. Sehingga dokter, bidan, dan perawat boleh bekerja dimana pun di
seluruh Indonesia. Sehingga para dokter tidak harus bekerja di daerah
terpencil. Akibatnya, kesenjangan distribusi tenaga kesehatan antara perkotaan
dan daerah terpencil kian tinggi. Misalnya untuk daerah-daerah di Indonesia
yang memiliki SDM Kesehatan terbanyak berada di Jawa dan Bali dengan 301.402
orang tenaga kesehatan atau 45,08% dan yang paling sedikit berada di wilayah
Nusa Tenggara dan Papua yaitu masing-masing hanya 26.168 orang atau 3,91% dan
16.293 orang atau 2,44% (tempo.co).
Belum
lagi awal tahun 2014 ini akan diterapkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang
merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dimana system ini
akan menaungi semua pelayanan kesehatan Indonesia. Sistem ini berbasis asuransi
social dan pasti akan menyedot semua perhatian massa karena pada awal pembuatan
nya pun UU SJSN sudah menuai banyak polemic. Dari segi penerapannya pun SJSN
belum tersosialisasikan dengan baik, dilihat dari banyaknya tenaga ahli medis
yang tidak tahu posisi mereka di era SJSN nanti. Dari segi persiapannya bisa
dibilang sangat minim apalagi dengan kondisi kekinian Indonesia. Dari segi
jumlah tenaga medis saja terutama dokter umum di Indonesia masih belum ideal. Berdasarkan
ketentuan rasio World Health Organization (WHO) seharusnya ada 40 dokter umum
per 100 ribu penduduk. Saat ini, baru 33 dokter umum untuk 100 ribu penduduk
(tempo.co). Belum lagi terjadi ketimpangan pemerataan SDM Kesehatan yang sudah
dipaparkan diatas, padahal di era SJSN nanti dibutuhkan pelayanan kesehatan
yang prima.
Semoga
disisa detik-detik terakhir pemerintahan rezim SBY, polemic kesehatan di
seantero negeri bisa diselesaikan dengan baik. SJSN yang akan diterapkan
beberapa bulan lagi bisa dijalankan dengan optimal jangan sampai hanya untuk
pencitraan ulang rezim mengahadapi pemilu 2014 saja dan semua kebutuhan primer
masyarakat bisa terjamin terutama akses pelayanan kesehatannya.
Salam,
Jaya Sukmana
Kementrian Kajian Strategis
BEM Kema UNPAD 2013
Jaya Sukmana
Kementrian Kajian Strategis
BEM Kema UNPAD 2013
Senin, 14 Oktober 2013
Reposisi Peran Pemuda di Era Modern
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari
akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya
akan kuguncangkan dunia”
–Ir. Soekarno
Ucapan itu pernah dikeluarkan oleh presiden RI pertama untuk membakar semangat juang bangsa Indonesia yang sedang dihimpit para penjajah ditengah keinginan bangsa ini untuk hidup merdeka. 1000 orang tua untuk mencabut semeru dan 10 orang pemuda untuk mengguncangkan dunia. Begitu besarnya Soekarno menaruh harapan pada pemuda dengan penuh optimis dan keyakinan yang tinggi ketika mengeluarkan ucapan itu. Ucapan memang hanya sekadar kata, tapi dibalik kata akan selalu terkandung banyak makna.
Ketika
mengenang kembali romantika sejarah, banyak sekali peran pemuda yang sudah
dilakukan. Pemuda selalu mengambil posisi strategis dan garda terdepan dalam
perubahan negeri ini, sehingga menjadi hal yang relevan ketika berbicara
sejarah kebangsan secara utuh tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah
kepemudaan. Pemuda selalu mengambil peran sebagai “pemberontak” yang sepertinya
telah menjadi tradisi turun-temurun pada generasi muda selanjutnya. Banyak
sekali gerakan yang pemuda pelopori, Budi Oetomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Proklamasi
Kemerdekaan 1945, generasi 1966 sampai gerakan 1998, yang kemudian dikenal
dengan nama reformasi, semuanya tidak bisa dipisahkan dari semangat perlawanan
dan jiwa pemberontakan kaum muda Indonesia. Dalam pengertian dan makna yang
positif budaya perlawanan kaum muda melahirkan bentuk-bentuk budaya baru
sebagai revisi atas budaya lama yang dianggap sudah tidak sesuai dengan
jamannya.
Lalu
bagaimana dengan nasib pemuda hari ini? Gerakan pemuda yang sarat dengan
perubahan rasanya sudah langka untuk ditemui. Peran pemuda sebagai generasi
penerus cita-cita perjuangan bangsa dan generasi pengisi kemerdekaan rasanya
saat ini perlu ditinjau ulang. Pemuda hari ini seperti terbuai dalam kehidupan
semu, terlena dalam kemaksiatan yang bergelimang dosa, narkoba, seks bebas,
pornografi. Padahal Allah sudah menerangkan dalam Al-Qur’an:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. Al-A’raf: 96)
Fakta yang
terjadi di Indonesia sangat jauh dari keinginan. Negara yang bersatu,
berdaulat, adil dan makmur hanya mimpi disiang bolong. Negara yang kaya akan
sumber daya alam tapi seperti tikus yang mati didalam lumbung padi. Perilaku
korup birokratnya, anak muda yang rusak perilaku moralnya seolah semakin
menambah rentetan permasalahan di negeri ini. Wajar kalau dari hari ke hari
Indonesia semakin terpuruk.
Kemandirian
bangsa tentu saja menjadi atensi dari semua elemen bangsa khususnya pemuda
sebagai pengemban masa depan bangsa. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda
memiliki peranan sejarah yang penting dan berkelanjutan dalam perjalanan
kehidupan berbangsa. Mengingat peranan dan posisinya yang strategis dalam
konfigurasi kehidupan berkebangsaan, sudah sepatutnya pemuda mesti dipandang
sebagai aset sosial bangsa yang strategis dalam pola pembangunan negeri.
Indonesia masa depan bisa diramalkan dengan melihat kondisi para pemudanya hari
ini, karena pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Itulah sebabnya kalau
ingin menghancurkan suatu negeri, maka hancurkanlah generasi muda nya terlebih
dahulu.
Reposisi
peran pemuda ini menjadi sebuah keniscayaan karena tantangan pada perubahan dunia
secara global tidak lagi sama dengan tantangan perubahan dunia pada 10-20 tahun
yang lalu. Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma karena generasi muda
yang lahir saat ini bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi yang sangat pesat. Mereka hidup dalam era digital yang serba mudah
dan instan. Pada posisi ini orangtua tidak lagi memiliki peran yang cukup untuk
mengambil posisi “ing ngarsa sung tulodo” (di depan memberi contoh). Anak-anak
muda ini telah memilih panutannya sendiri-sendiri. Anak-anak muda inilah yang
sudah saatnya didorong ke depan untuk mengambil alih peran-peran inisiatif.
Generasi yang lebih tua harus rela diposisikan “tut wuri handayani” (mendorong dari
belakang) dengan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan kecerdasan serta
akhlak yang baik untuk bekal agar mereka bisa mengarungi dunianya sendiri.
Isu seputar
politik kaum muda, kepemimpinan orang muda, pengusaha muda, miliuner muda,
intelektual muda, inventor muda bukan lagi sekadar wacana. Hal tersebut telah
menjadi keniscayaan dunia yang memberikan ruang gerak dan ruang kreatif yang
lebih luas untuk anak-anak muda. Memberikan peran dan tanggung jawab, serta
identitas sosial yang lebih pada pemuda adalah bagian dari skenario membangun
negara bangsa yang punya daya saing dan keunggulan yang siap dibandingkan dan
disandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Jumat, 27 September 2013
Buku dan Waktu
3 minggu yang lalu dapat hadiah ini dari orang-orang yang
luar biasa, meskipun sederhana tapi penuh makna.
Buku dan waktu, 2 hal yang perlu perhatian lebih akhir-akhir
ini. Untuk manajemen waktu yang sangat sangat sangat keteteran akhir-akhir ini
serta buku yang sudah lama terlupakan, sudah banyak tumpukan buku baru yang
belum terjamah lebih dari sebulan ini.
Terimakasih teman sudah mengingatkan disaat kegersangan hati
mulai melanda
Saatnya bergerak untuk memperbaiki ..
“Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaknya
salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Minggu, 15 September 2013
Permainan
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan permainan belaka. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut : 64)
Hidup ini memang sederhana. Berawal
dari satu titik dan berakhir pada titik lainnya, tapi yang paling bermakna
adalah interval diantara keduanya. Kita diberikan pilihan untuk mengisinya,
apakah dengan sebuah goresan atau coretan. Semua nya berlomba-lomba,
berkompetisi untuk melejitkan valensi diri, memperbesar kapasitas hati. Ada yang
sukses menaklukan, ada yang berhasil ditaklukan. Seperti sebuah kolaborasi yang
berhasil menodai garis waktu, beragam.
Keadaan hidup yang menekan dalam
situasi yang tak pernah terbayang, masalah yang datang silih berganti membuat
dinamika hidup yang lebih berarti. Tapi kadang keadaan itu sering membuat kita
lupa kalau kehidupan itu fana. Hidup itu hanya sementara dan permainan belaka.
Hidup itu memang sebuah permainan,
tapi bukan permainan yang bisa diselesaikan dengan main-main. Bukankah ketika
kita bermain video game sekalipun kita
tidak pernah bisa menyelesaikannya dengan main-main. Kita siapkan visi bermain,
kita fahami arena pertandingan, dan kita terus berlatih berkali-kali. Meskipun gameover kita mencoba lagi, lagi dan
lagi. Kita bisa menghabiskan berjam-jam, berhari-hari bahkan berminggu-minggu
untuk menyelesaikan sebuah video game
karena kita tahu video game tersebut
tidak akan pernah selesai jika kita tidak serius dan focus. Segala kesulitan
yang datang dihadapi, anak-anak lebih rela membuka kamus inggris hanya untuk
menterjemahkan bahasa yang ada dalam video
game dari pada disuruh ibunya untuk belajar. Waktu yang berlalu pun tidak
terasa, mulai bermain pagi tahu-tahu ternyata sudah sore lagi sampai kadang
membuat kita lupa makan dan lupa segalanya. Semua nya karena apa? Karena kita
menikmati prosesnya.
Ketika
bermain sendirian kadang kita merasa bodoh karena terus-terusan gameover. Tetapi ketika kita bermain
dengan orang lain, kita jauh lebih hebat karena telah banyak menelan kepahitan.
Ketika kalah satu kali, kita akan memikirkan strategi agar tidak kembali
terulang. Terus berfikir, berfikir dan berfikir untuk menang. Ketika sudah
menang ada kepuasan tersendiri meskipun telah banyak waktu yang dikorbankan dan
banyak uang yang dihabiskan untuk sebuah video
game. Tapi toh kita tidak pernah menyesal karena dibalik video game terkandung kreatifitas tanpa
batas.
Begitupun
dengan hidup, kehidupan itu hanya sebuah permainan. Permainan yang harus
diselesaikan dengan visi bermain, strategi, focus, serius dan yang paling terpenting
adalah menikmatinya, terutama prosesnya. Karena dalam prosesnya terkandung
banyak makna untuk memperindah setiap goresan kehidupan kita.
Selasa, 06 Agustus 2013
Mendaki
Aku mendaki melewati lembah
Meskipun dengan kaki bersimbah darah
Berharap menemukan pemandangan puncak yang indah
Aku berlari melewati sabana
Meskipun dengan hati yang merana
Berharap melihat hijaunya padang rumput istimewa
Aku menyelami dasar samudra
Meskipun dengan jiwa yang hampa
Berharap memiliki kemilau indahnya mutiara
Tapi mengapa?!
Lembah yang didaki seperti tak ada henti,
Sabana yang dilewati panjang membentang tiada arti,
Samudra yang diselami seperti tak kunjung bertepi,
Yang tersisa hanya kaki yang semakin terluka,
Hati yang semakin merana,
Dan jiwa yang semakin hampa
Cahaya pun perlahan mulai redup
Terhalang oleh lembah-lembah yang menggunung
Tertimbun dibawah pohon-pohon dalam sabana yang rindang
Terkikis oleh dasar samudra yang gelap
Aku rela untuk tidak melihat indahnya pemandangan puncak
Aku rela untuk tidak melihat indahnya padang rumput istimewa
Aku rela untuk tidak memiliki indahnya kemilau mutiara
samudra
Tapi,
Jangan pernah biarkan cahaya itu pergi dariku
Karena tanpanya bunga yang telah ku janjikan tak akan mekar
Bunga yang akan aku persembahkan untukmu,
Hanya untukmu ..
Langganan:
Postingan (Atom)




